Ambang Batas Hilal Menurut Astronom Muslim

  • Page Views 689
  • Ambang Batas Hilal Menurut Astronom Muslim

    Oleh :

    Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar*

     

    Persoalan penentuan awal bulan adalah persoalan yang banyak dibahas oleh para ulama dan ilmuwan dari sejak dahulu sampai hari ini. Salah satu persoalan yang menjadi perbincangan khususnya dikalangan astronom Muslim adalah mengenai standar atau ambang batas hilal itu sendiri. Sejauh ini para ulama dan ilmuwan (astronom) berbeda-beda dalam menetapkan standar angka (derajat) hilal untuk dapat teramati. Aneka perbedaan ini tidak lain disebabkan pada perbedaan lokasi dan waktu. Disini akan dikemuakakan pendapat beberapa tokoh mengenai standardisasi hilal untuk dapat terlihat (imkan rukyat).

    Habasy al-Hasib (w. 869 M). Nama lengkapnya Ahmad bin Abdillah Habasy Hasib Marwazy, dia adalah ahli matematika dan astronomi terkenal di dunia Islam, salah satu karyanya adalah “Zij ad-Dimasyq”. Menurut Morlan, pembahasan terpenting Habsy al-Hasib dalam Zij-nya ini adalah rekonstruksi teoretisnya atas pembahasan kemungkinan terlihatnya hilal. Dalam konstruksi visibilitas hilalnya, Habasy banyak mengikut tradisi Ptolemeus. Menurut Habasy, hilal terlihat pada suatu hari tertentu apabila hisab menunjukkan posisi lebih kurang 12 derajat (48 menit) antara gurub dan terbenam bulan.

    Al-Battany (w. 317/929). Nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Jabir bin Sinan al-Harrany ar-Raqqy ash-Shaby’ al-Battany. Dia lebih dikenal dengan “Al-Battany” nisbah kepada tempat dimana dia dilahirkan yaitu “Battan” yang berdekatan dengan Harran, Irak. Al-Battany terhitung tokoh yang cukup intens mengkaji hilal. Seperti dikemukakan Al-Biruny, salah satu karya Al-Battany yang cukup komprehensif membahas persoalan hilal tertera dalam karayanya yang berjudul “’Ilm al-Falak”. Dalam karyanya ini, Al-Battany menetapkan bahwa hilal tidak mungkin terlihat satu hari sebelum terjadinya ijtimak. Dalam hal ini hilal akan dapat terlihat pada hari ke-29 pada posisi 12 derajat 11 menit.

    Ibn Yunus (w. 399/1008). Nama lengkapnya Ali bin Abdurrahman bin Ahmad bin Yunus al-Mashry (w. 399/1008), yang lebih dikenal dengan Ibn Yunus. Dia adalah tokoh astronomi klasik populer asal Mesir yang memiliki pengetahuan luas di bidang astronomi. Dalam hal penentuan awal bulan, Ibn Yunus memberi batasana hilal dapat teramati jika bagian bercahaya bulan (had an-nūr) minimal 10 derajat, tinggi hilal tidak kurang dari 6 atau 6,5 derajat, dan mukts (busur edar bulan) minimal 8 derajat. Konsep (kriteria) Ibn Yunus ini juga diikuti oleh Ibn al-Majdi (w. 850/1446) dalam karyanya yang berjudul “Ghunyah al-Fahīm wa ath-Tharīq Ilā Hall at-Taqwīm“.

    Ibn Majdy (w. 850/1447). Nama lengkapnya Syiḥābuddīn Abū al-Abbās Ahmad bin Rajab bin Taibugā al-Majdy al-‘Allā’i bin Abdillāh al-Qāhiry asy-Syāfi’i. Populer  dengan nama Ibn al-Majdi (Ibn Majdi), nisbah kepada kakeknya (Ibn Taibugā al-Majdi al-‘Allā’i). Lahir di Cairo pada bulan Zulhijah tahun 767/1366 dan wafat pada 11 Zulhijah 850/1447. Spesialis keilmuannya astronomi dan matematika. Al-Sakhāwi (w. 902/1496) menyebutkan beberapa guru astronomi Ibn Majdi antara lain at-Taqī bin ‘Izzuddīn al-Hanbali dan al-Jamal al-Mardāni. Beberapa literatur bibliografi menyebut Ibn Majdi terkemuka dalam bidang aritmetika, geometri, astronomi, faraid dan tata waktu (mīqāt). Beberapa karyanya: “Khulaṣah al-Aqwāl fī Ma’rifah al-Waqt wa Ru’yah al-Hilāl”, “Al-Manhal al-‘Ażb az-Zulāl fī Ma’rifah Hisāb al-Hilāl”, “Ad-Durr al-Yatīm fī Sinā’ah at-Taqwīm”, “Gunyah al-Fahīm wa aṭ-Tarīq Ilā Hall at-Taqwīm”, dan lain-lain.

    Dalam hal penentuan awal bulan, Ibn Majdi cendrung pada rukyatul hilal, hal ini nampak dari sub judul karyanya “Ru’yah al-Hilal”. Dalam karyanya yang lain Ibn Majdi memberi judul Khulasah al-Aqwal fi Ma’rifah al-Waqt wa Ru’yah al-Hilal”. Dalam diskursus hilal, Ibn Majdi memberi parameter sebagai berikut: (1) Hilal dapat teramati jika bagian bercahaya bulan (had an-nūr) minimal 10 derajat, (2) Tinggi hilal (irtifa’ al-hilal) tidak kurang dari 6 atau 6,5 derajat, dan (3) mukts (busur edar bulan) minimal 8 derajat.

    *Penulis: Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU

    Share This Article

    Leave a comment

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *