BeritaFalak

Muhammadiyah Tindaklanjuti Keputusan Kongres Penyatuan Kalender Turki

MUHAMMADIYAH TINDAKLANJUTI KEPUTUSAN KONGRES PENYATUAN KALENDER TURKI

Jakarta – Pasca kongres penyatuan kalender yang diselenggarakan di Turki akhir Mei lalu, Muhammadiyah memandang perlu untuk menindaklanjuti keputusan kongres tersebut. Hari ini, Jumat 17 Juni 2016 bertempat di kampus B Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) Jakarta, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid bekerja sama dengan Islamic Science Research Network (ISRN) mengadakan seminar nasional Kalender Islam Global sekaligus temu ahli falak Muhammadiyah untuk mengkaji hasil kongres Turki.

Hadir dalam seminar ini, Bapak Lukman Hakim Saifuddin selaku Menteri Agama RI memberikan keynote speech-nya. Dalam kesempatan itu, Menteri Agama memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Muhammadiyah dan ISRN UHAMKA yang telah menginisiasi seminar penting ini. “Saya selaku pribadi sekaligus mewakili pemerintah memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Muhammadiyah dan ISRN UHAMKA atas inisiasi dan upayanya menyelenggarakan seminar ini. Karena Kalender ini (jika terwujud) akan banyak manfaatnya.” Ungkap pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU), Jumat pagi (17/6/2016).

Dalam seminar pagi dua narasumber dipercaya untuk memberikan materi. Materi pertama terkait hasil kongres penyatuan kalender disampaikan oleh ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Syamsul Anwar. Materi kedua disampaikan oleh ketua ISRN UHAMKA, Prof. Tono Saksosono. Alumni Ohio State University ini memberikan kritik pada konsep imkanu rukyat lokal, yang menurutnya merupakan scientific blunder.

Exif_JPEG_420

“Secara umum, paham imkanu rukyat lokal yang selama ini dipakai oleh negara-negara MABIMS ternyata meruapakan sebuah scientific blunder.” Ungkap Tono Saksono, Jumat (17/6/2016).

Selain itu ia juga memberikan penjelasan tentang konsekuensi secara ekonomis-syariah, terutama terkait hutang zakat umat Islam yang semakin menggelembung, karena ketiadaan kalender Islam pemersatu. Karena ketiadaan kalender Islam global, umat Islam secara terpaksa harus mengadopsi kalender gregorian sebagai basis akuntansi bisnis mereka.

“Dengan diadopsinya kalender Islam global, hutang peradaban akibat penggunaan kalender gregorian sebagai basis akuntansi bisnis umat Islam juga akan dihentikan proses penggebelembungannya. Kemudian kita harus bersama-sama memikirkan pola-pola pembayaran hutang peradaban yang mungkin sudah sebesar US$ 5 triliun. Bahkan mungkin lebih.” Jelas Tono.

Agenda setelah seminar hari ini adalah mengkaji hasil kongres Turki oleh para ahli falak Muhammadiyah. Rangkaian acara ini direncakan hingga Sabtu, 18/6/2016.

Kontributor berita : Niki Alma Febriana Fauzi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button