Astronomi di Dunia Islam

  • Page Views 447
  • Astronomi di Dunia Islam

    Oleh: 

    Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, MA

    (Kepala Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara)

    Ilmu falak (astronomi) terhitung sebagai cabang ilmu eksak tertua yang banyak mendapat perhatian manusia sepanjang sejarah. Kegiatan ilmu falak sudah berkembang sejak jauh sebelum Islam datang. Pengetahuan manusia terhadap ilmu falak pada awalnya hanya sebatas pengamatan alami yang bersifat praktis-pragmatis yaitu mengamati terbit dan tenggelam benda-benda langit untuk kepentingan perjalanan, perdagangan, pertanian, menetapkan ritual-ritual agama & sosial, dan lainnya. Aktifitas praktis-pragmatis ini tak jarang juga dikaitkan dengan menelaah situasi alam dalam perspektif yang berbeda yaitu menghubungkannya dengan hal-hal yang bersifat abstrak-pragmatis seperti untuk meramal karakter & nasib seseorang atau sekelompok orang di masa depan yang dikenal dengan nujum atau astrologi.

    Ilmu falak seperti dituturkan banyak praktisi merupakan cabang keilmuan Islam yang memiliki posisi istimewa. Ilmu ini adalah cabang ilmu yang tidak banyak mendapat penentangan dari umat muslim karena peranannya yang demikian signifikan dalam penentuan waktu ibadah. Sejak dahulu dan hingga kini, ilmu falak mendapat tempat terhormat dan dihargai oleh para ahli agama (fukaha) yang terus bertahan hingga era modern.

    Di zaman tengah, selain disebut ilmu falak dan hai’ah, ilmu ini disebut juga dengan ilmu observasi (ar-rashd) yang merupakan bagian integral ilmu falak. Selain itu ilmu ini disebut juga ilmu waktu (‘ilm al-miqat) karena berkaitan dengan penentuan waktu (khususnya waktu shalat dan arah kiblat).

    Secara umum, ilmu falak dibagi menjadi dua, yaitu (1) ilmu falak teoretis (falak ‘ilmy nazhary, theoretical astronomy) dan (2) ilmu falak praktis atau terapan (falak tathbiqy ‘amaly, practical astronomy). Dalam penggunaan sehari-hari ilmu falak praktis-terapan (‘amaly) inilah yang oleh masyarakat disebut sebagai ilmu falak, dan di Indonesia dikenal dengan ilmu hisab, yaitu hisab (perhitungan) yang berkaitan dengan penentuan dan pelaksanaan ibadah.

    Sejak silam, kajian ilmu falak banyak mendapat perhatian dari para peneliti dan sejarawan. Regis Morlan (seorang orientalis Prancis, peneliti sejarah ilmu falak klasik) mengemukakan empat faktor. Faktor pertama, ada banyak ulama yang berkecimpung di bidang ini sepanjang sejarah. David A King misalnya, menyebutkan bahwa di era Mamalik Mesir terdapat tujuh puluh orang (tokoh) di bidang astronomi, yang masing-masing memiliki karya dan kontribusi. Salah satu tokoh di era Mamalik itu adalah Jalaluddin as-Suyuthi (w.911/1505) dengan karyanya “al-Hai’ah as-Siniyyah fi al-Hai’ah as-Sunniyyah”. Faktor kedua, banyaknya karya-karya yang dihasilkan. Aiman Fuad Sayyid menyebutkan, jumlah karya tulis ulama di era peradaban Islam mencapai tiga juta naskah, dimana 20 persen diantaranya (enam ratus ribu naskah) diantaranya adalah naskah-naskah sains, dimana astronomi ada di dalamnya. Faktor ketiga, banyaknya observatorium astronomi yang berdiri sebagai akses dari banyaknya astronom serta karya-karya mereka. Seperti dikemukakan Seyyed Hosein Nasr, observatorium adalah warisan yang teramat berharga sebagai dimiliki oleh peradaban Islam. Dalam konteks yang luas, observatorium adalah puncak pengetahuan astronomi oleh karena di dalamnya ada pengamatan, kerjasama, manajemen (sistem), pengkajian lanjut, dan lain-lain. Sedangkan faktor keempat, banyaknya data observasi (pengamatan alami) yang terdokumentasikan. Data dimaksud adalah apa yang disebut dengan zij (tabel-tabel astroomi) sebagai hasil observasi rutin benda-benda langit.

    Sementara itu Prof. Dr. Muhammad Ahmad Sulaiman (mantan guru besar ilmu falak di Institut Nasional Penelitian Astronomi dan Geofisika Helwan, Mesir) mengatakan “astronomi adalah miniatur terhadap majunya peradaban sebuah bangsa”.

    Dalam perjalanan mulanya, peradaban India, Persia dan Yunani adalah peradaban yang punya kedudukan istimewa. Dari tiga peradaban inilah secara khusus muncul dan lahirnya peradaban ilmu falak Arab (Islam), disamping peradaban-peradaban lainnya. Peradaban India adalah yang terkuat dalam pengaruhnya terhadap Islam (Arab). Buku astronomi India ‘Sindhind’ punya pengaruh besar dalam perkembangan astronomi Arab (Islam), dengan puncaknya pada dinasti Abbasiah masa pemerintahan Al-Manshur diringkas dan diterjemah ke bahasa Arab. Ibrahim al-Fazzârî adalah orang yang mendapat amanah untuk mengerjakan proyek ini, sekaligus juga ia melahirkan buku penjelas yang berjudul “as-Sind Hind al-Kabîr”.

    Peradaban Persia juga memberi pengaruh signifikan dalam peradaban ilmu falak era Islam. Melalui tradisi astronomi Persia ini ditemukan cukup banyak istilah-istilah ilmu falak Persia yang terus dipakai di zaman Islam dan bahkan hingga saat ini, seperti zij (epemiris) dan auj (aphelion). Buku astronomi berbahasa Persia yang banyak mendapat perhatian bangsa Arab (Islam) adalah “Zij Syah” atau “Zij Syahryaran” yang merupakan ephemiris (zij) yang masyhur di zamannya.

    Sementara dari peradaban Yunani puncaknya dimotori oleh Cladius Ptolemeus yang dikenal dengan sistem geosentrisnya. Peradaban astronomi Yunani sendiri merupakan peradaban yang paling banyak memengaruhi corak dan karakteristik peradaban astronomi di era Isam dengan segenap adaptasi dan modifkasi aktif dan kreatifnya. Salah satunya adalah modifikasi dan adaptasi instrumen astronomi warisan peradaban Yunani bernama mizwala (sundial/jam matahari) yang di peradaban Yunani lebih digunakan untuk kepentingan ritual berperang dan menyebah dewa, sementara di peradaban Islam digunakan untuk menentukan waktu salat Zuhur dan Asar, serta penggunaan waktu-waktu lainnya secara umum.

    Gagasan astronomi Ptolemeus sendiri terekam dalam maha karyanya yang berjudul ‘Almagest’ atau ‘Tata Agung’ yang menjadi buku pedoman astronomi utama dalam waktu beberapa abad sebelum runtuh oleh teori tata surya Ibn Syathir (w. 777/1375) dan berikutnya Copernicus (w. 1543 M). Dalam kenyataannya, karya-karya astronomi Islam banyak terpengaruh oleh karya astronomi India ini, namun seperti dikemukakan di atas, diiringi dengan adaptasidan modifikasi kreatif.

    Share This Article

    Leave a comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *