BeritaEtalaseFatwaProduk

Bagaimana Hukum Sholat Jumat Secara Online?

HUKUM SHALAT JUMAT ONLINE
Disidangkan pada Senin, 19 Jumadilakhir 1442 H / 2 Februari 2021 M

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya shalat Jumat online yang beberapa waktu terakhir ini muncul praktik khutbah dan shalat Jumat secara online?

Jawaban:
Terima kasih atas pertanyaan yang diajukan kepada Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu dijelaskan bahwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah mengeluarkan beberapa fatwa berkaitan dengan shalat Jumat, di antaranya adalah fatwa dalam buku Tanya Jawab Agama (TJA) Jilid 1 halaman 64 tentang shalat Zuhur gantinya shalat Jumat, yakni seseorang yang tidak bisa melaksanakan shalat Jumat karena suatu hal maka penggantinya adalah shalat Zuhur.

TJA Jilid 2 halaman 92 tentang makmum di ruang samping, makmum dapat mengikuti imam dengan cara melihat dan mendengar. TJA Jilid 3 halaman 92 tentang shalat Jumat di masjid bertingkat, seorang imam yang berada di lantai atas dan makmum di lantai bawah dengan menggunakan layar boleh dilakukan dalam satuan tempat. TJA Jilid 4 halaman 123 shalat Zuhur pengganti shalat Jumat, seorang yang berhalangan shalat Jumat karena sebab yang dibenarkan syar‘ī (hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sakit) atau ada uzur, maka dikembalikan kepada hukum asal yakni shalat Zuhur.

Pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 01/MLM/I.0/H/2020 tertanggal 14 Maret 2020 tentang Tuntunan Ibadah pada masa Pandemi Covid-19 juga disebutkan kebolehan shalat Jumat di rumah untuk menghindari penyebaran virus corona: Apabila kondisi dipandang darurat maka pelaksanaan shalat Jumat dapat diganti dengan shalat Zuhur di rumah. Demikian pula pada Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 05/EDR/I.0/E/2020 tertanggal 4 Juni 2020 tentang Tuntunan dan Panduan Menghadapi Pandemi dan Dampak Covid-19, dijelaskan bahwa shalat Jumat dapat dilakukan di masjid, musala, atau tempat lain yang memungkinkan untuk mencegah penularan virus corona dan dapat dilakukan dua gelombang.

Berkaitan dengan pertanyaan di atas, perlu disampaikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan ibadah Jumat online adalah khutbah dan shalat Jumat yang dilaksanakan secara online atau dalam jaringan (daring) melalui aplikasi telekonferensi video, dalam hal ini Zoom Clouds Meeting, sehingga membutuhkan ketersediaan teknologi informasi berupa perangkat keras seperti laptop, komputer atau gawai; jaringan atau daya listrik; serta jaringan internet dan paket data yang memadai. Termasuk dalam persoalan ini adalah shalat Jumat berimam pada siaran on air radio dan televisi.

Ibadah Jumat online ini dilakukan atas dasar prinsip at-taysīr (kemudahan) pada situasi darurat pandemi Covid-19, sebab tidak mungkin dilakukan secara normal dengan mengumpulkan banyak orang di masjid. Hal ini karena salah satu protokol kesehatan terkait pandemi Covid-19 adalah tidak boleh berkerumun atau mengumpulkan banyak orang di suatu tempat. Jadi, ibadah Jumat online, selanjutnya cukup disebut shalat Jumat online, merupakan

persoalan kekininan yang belum pernah dipraktikkan pada masa Nabi saw. Shalat Jumat online ini termasuk persoalan ijtihādī, sehingga memunculkan ragam pendapat dalam memahaminya.

Shalat Jumat adalah salah satu bentuk ibadah maḥḍah (ibadah khusus). Yang dimaksud dengan ibadah adalah sebagai berikut,

اَلْعِباَدَةُ ىِيَ التَّ قَرُّبُ إِلََ اللهِ بِامْتِثاَلِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ ن وََاىِيْوِ وَاْلعَمَلِ بِِاَ أَذِنَ بِوِ الشَّارِعُ، وَىِيَ عَامَّةٌ
وَخَاصَّةٌ، فَاْلعَامَّةُ كُلُّ عَمَلٍ أَذِنَ بِوِ الشَّارِعُ، وَاْلخَاصَّةُ ماَ حَدَّ دَهُ الشَّارِعُ فِيْهاَ بُِِزْئِيَّاتٍ وَىَيْئَاتٍ وَكَيْفِيَّاتٍ
مََْصُوْصَةٍ

Ibadah ialah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan jalan menaati segala perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan-Nya. Ibadah itu meliputi ibadah umum dan ibadah khusus. Ibadah umum ialah segala amalan yang diizinkan Allah. Ibadah khusus ialah apa yang telah ditetapkan Allah perincian-perinciannya, tingkah dan cara-caranya yang tertentu [HPT, 2009, I: 278-279].

Shalat Jumat termasuk ibadah khusus (ibadah maḥḍah), yaitu ibadah yang telah ditentukan rincian tata cara pelaksanaannya baik mengenai kaifiat, perbuatan maupun ucapannya yang harus dibaca. Dalam pelaksanaan ibadah khusus (ibadah maḥḍah) itu terdapat ketentuan-ketentuan umum, yaitu harus mengikuti petunjuk Nabi saw tentang cara-cara dan rincian kaifiatnya dan tidak boleh dibuat-buat, sebagaimana dituntunkan dalam beberapa nas syariah,

 أَمْ لََمُْ شُرَكَآءُ شَرَعُوا لََمُْ مِّنَ الدِّينِ مَا لََْ يَأْذَنْ بِوِ اللَّوُ [الشورى (42):21]

Apakah mereka mempunyai sesembahan selain dari Allah yang mensyariatkan untuk mereka aturan agama yang tidak diizinkan Allah [Q.S. asy-Syūrā (42): 21].

عَنْ أَنَسٍ قَالَ … قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ شَيْ ءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْ يَاكُمْ فَأَنْ تُمْ أَعْلَمُ بِوِ
فَإِذَا كَانَ مِنْ أَمْرِ دِيْنِكُمْ فَإِلَََّ [رواه أحمد واللفظ لو وابن ماجو وابن حبان وابن خزيمة]

Dari Anas (diriwayatkan) ia berkata: … Rasulullah saw bersabda: Apabila ada suatu urusan duniamu, maka kamu lebih tahu mengenainya, dan apabila ada suatu urusan mengenai agamamu, maka kembali kepadaku [H.R. Aḥmad, Ibn Mājah, Ibn Ḥibbān, dan Ibn Khuzaimah].

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّوِ صَلَّى اللهُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِِ أَمْرِنَا ىَذَا مَا
لَيْسَ مِنْوُ فَ هُوَ رَدٌّ [رواه البخاري ومسلم]

Dari „Āisyah r.a. (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa mengada-adakan dalam agama kami ini sesuatu yang tidak termasuk ke dalamnya, maka ditolak [H.R. al-Bukhārī dan Muslim].

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّوِ صَلَّى اللهُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ عَمِلَ عَمَلًً لَيْسَ عَلَيْوِ أَمْرُنَا فَ هُ وَ رَدٌّ [رواه مسلم]

Dari „Āisyah (diriwayatkan) Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak berdasarkan kepada perintah kami, maka ditolak [H.R. Muslim].

 صَلُّوا كَمَا رَأَيْ تُمُوْنِِْ أُصَلِّى [رواه البخاري]…

… Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku melakukan shalat [H.R. al-Bukhārī].

Atas dasar nas-nas di atas para fukaha merumuskan kaidah fikihiah mengenai ibadah sebagai berikut,

اَلَْْصْلُ فِِ اْلعِبَادَاتِ التَّحْرِيُْْ حَتََ ي قَُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى أَن هََّا عِبَادَةٌ مَشْرُوْعَة

Pada asasnya ibadah itu dilarang untuk dilakukan kecuali yang terdapat dalil yang menunjukkannya sebagai ibadah yang masyruk.

اَلَْْصْلُ فِِ اْلعِبَادَاتِ التَّ وْقِيْفُ فَلًَ يُشْرَعُ مِنْ هَا إِلََّّ مَا شَرَعَوُ الله

Pada asasnya ibadah itu bersifat taukif, sehingga tidak sah dilakukan, kecuali yang disyariatkan Allah.

اَلَْْصْلُ فِِ اْلعِبَادَاتِ اْلبُطْلًَنُ إِلََّّ مَا شَرَعَوُ اللهُ وَرَسُوْلُو

Pada asasnya ibadah itu batal kecuali yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya.

Untuk memahami berbagai masalah agama (akidah, akhlak, ibadah, dan muamalat dunyawiah) digunakan suatu sistem pemahaman yang disebut Manhaj Tarjih. Manhaj Tarjih sebagai kegiatan intelektual untuk merespons berbagai persoalan dari sudut pandang agama Islam tidak sekedar bertumpu pada sejumlah prosedur teknis, melainkan juga dilandasi oleh wawasan atau perspektif pemahaman agama yang menjadi karakteristik pemikiran Islam Muhammadiyah. Salah satu wawasan/perspektif dalam Manhaj Tarjih itu adalah wawasan tajdid.

Tajdid mempunyai dua arti, purifikasi atau pemurnian dan dinamisasi. Dalam bidang akidah dan ibadah tajdid bermakna purifikasi atau pemurnian, yakni mengembalikan kepada kemurniannya sesuai dengan Sunah Nabi saw. Sedangkan dalam bidang muamalat duniawiyah tajdid berarti dinamisasi kehidupan masyarakat dengan semangat kreatif dan inovatif sesuai tuntutan zaman. Shalat Jumat merupakan bagian dari ibadah, sehingga tajdid dalam persoalan shalat Jumat adalah purifikasi, bukan dinamisasi, sehingga harus dikembalikan kepada kemurniannya.

Beberapa ketentuan ibadah shalat Jumat tersebut adalah sebagai berikut,

Hukum Shalat Jumat
Shalat Jumat hukumnya wajib bagi setiap orang Islam yang telah memenuhi persyaratan, hal ini dijelaskan beberapa dalil berikut,

يَا أَي هَُّا الَّذِينَ آمَنُوآ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلًَةِ مِنْ ي وَّْمِ الُْْمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلََ ذِكْرِ اللَّوِ وَذَرُوا الْبَ يْعَ ذ لِكُمْ خَيْ رٌ لَكُمْ
إِنْ كُنْتُمْ تَ عْلَمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui [Q.S. al-Jumu„ah (62) :9].

Ayat ini berisi tentang seruan atau panggilan untuk melaksanakan shalat Jumat. Panggilan tersebut berupa azan, artinya apabila muazin telah mengumandangkan azan untuk shalat Jumat maka umat Islam harus bergegas mendengarkan khutbah dan melaksanakan shalat Jumat. Adapun disebut Jumat artinya berkumpulnya manusia pada hari itu untuk melaksanakan shalat Jumat di tempat yang luas dan besar seperti masjid yang dilakukan sekali dalam satu pekan (lihat Ibnu Kaṡir, Tafsīr al-Qur‟ān al-„Aẓim 4/365-367, Wahbah az-Zuhailī, Tafsīr al-Munīr 14/573 dan Muhammad „Alī aṣ-Ṣābūnī, Tafsīr Āyāt al-Aḥkām II/569-586).

Selain itu Nabi saw mempertegas wajibnya shalat Jumat dalam sebuah hadis,

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنِ النَّبِِِّ صَلَّى اللَّوُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ قَالَ الُْْمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْ لِمٍ فِِ
جَََاعَةٍ إِلََّّ أَرْب عََةً عَبْدٌ مََْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبٌِِّ أَوْ مَرِيضٌ [رواه أبو داود]

Dari Thāriq bin Syihāb (diriwayatkan) dari Nabi saw beliau bersabda: Shalat Jumat itu wajib bagi setiap Muslim dengan berjamaah, kecuali empat golongan, yaitu; hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sakit [H.R. Abū Dāwūd].

Wajibnya melaksanakan shalat Jumat ini juga disertai dengan beberapa ancaman Nabi saw bagi orang yang meninggalkannya, sebagaimana dijelaskan dalam hadis,

عَنْ عَبْدِ اللهِ أَنَّ النَّبَِِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ قَالَ لِقَوْمٍ ي تََخَلَّفُونَ عَنِ الُْْمُعَةِ: لَقَدْ هَََمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلًً
يُصَلِّي بِالنَّاسِ، ثَُُّ أُحَرِّقَ عَلَى رِجَالٍ ي تََخَلَّفُونَ عَنِ الُْْمُعَةِ ب يُُوتَ هُمْ [رواه أحمد ]

Dari „Abdullāh (diriwayatkan) bahwa Nabi saw bersabda kepada kaum yang meninggalkan shalat Jumat: Sungguh aku berkeingian untuk memerintahkan kepada salah seorang shalat bersama orang-orang, kemudian aku bakar rumah-rumah dari orang-orang yang meninggalkan (shalat) Jumat [H.R. Aḥmad].

حَدَّثَنِِ الَْْكَمُ بْنُ مِينَاءَ أَنَّ عَ بْدَ اللَّوِ بْنَ عُمَرَ وَأَبَا ىُرَيْ رَةَ حَدَّثَاهُ أَن هَُّمَا سََِعَا رَسُولَ اللَّوِ صَلَّى اللَّوُ عَلَيْوِ
وَسَلَّمَ ي قَُولُ عَلَى أَعْوَادِ مِنْبََِهِ لَيَ نْتَهِيَََّ أَقْ وَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الُْْمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّو عَلَى قُ لُو مْ ثَُُّ
لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِيََ [رواه مسلم]

Telah menceritakan kepadaku al-Ḥakam bin Minā‟ bahwa „Abdullāh bin „Umar dan Abū Hurairah keduanya telah menceritakan kepadanya (diriwayatkan), bahwa keduanya mendengar Rasulullah saw bersabda di atas mimbarnya: Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat Jumat menghentikan perbuatannya, ataukah mereka ingin Allah membutakan hati mereka, dan sesudah itu mereka benar-benar menjadi orang yang lalai [H.R. Muslim].

عَنْ مَُُمَّدِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّوِ صَلَّى اللَّوُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ مَنْ تَ رَكَ الُْْمُعَةَ ثَلًَثَ مَرَّاتٍ تَ هَاوُنًا اَِِ
طَبَعَ اللَّوُ عَلَى قَ لْبِوِ [رواه أبو داود والترمذي]

Dari Muḥammad bin „Amr (diriwayatkan) ia berkata, Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali karena meremehkannya, maka Allah akan menutup hatinya [H.R. Abū Dāwūd dan at-Tirmidzī].

Dari hadis-hadis di atas dapat dipahami bahwa shalat Jumat termasuk perkara penting yang diungkapkan dalam bentuk perintah maupun ancaman. Di antara ancaman tersebut adalah akan ditutup hati orang yang meninggalkan shalat Jumat dengan sengaja dan meremehkannya. Imam Malik mengatakan bahwa yang dimaksud meninggalkan Jumat dengan sengaja adalah meninggalkan karena malas atau tidak ada uzur yang dibenarkan oleh syariat.

مَنْ تَ رَكَ الُْْمُعَةَ ثَلًَثَ مَرَّاتٍ مِنْ غَيِْْ عُذْرٍ وَلََّ عِلَّةٍ طَبَعَ اللَّوُ عَلَى قَ لْبِوِ

“Barangsiapa meninggalkan Jumat tiga kali tanpa ada uzur atau sebab (yang dibenarkan), maka Allah mengunci hatinya [al-Muntaqā Syarḥu al-Muwaṭṭa‟, 1/204].

Ancaman meninggalkan shalat Jumat ini tentunya tidak berlaku bagi mereka yang tidak termasuk golongan yang wajib melaksanakan shalat Jumat, seperti hamba sahaya, anak kecil, wanita dan orang sakit. Ancaman ini juga tidak berlaku bagi orang yang meninggalkan Jumat karena sebab yang dibenarkan syariat seperti adanya bencana atau kondisi lainnya yang dapat membahayakan keselamatan jiwa. Dikaitkan dengan kondisi yang melanda dunia termasuk umat Islam sekarang, yakni pandemi Covid-19 yang dapat membahayakan keselamatan jiwa, maka orang yang meninggalkan shalat Jumat tidak termasuk kategori dalam ancaman hadis ini.

Bagi orang yang tidak dapat melaksanakan shalat Jumat karena sebab tersebut, diperbolehkan tidak melaksanakan shalat Jumat, tetapi diwajibkan untuk melaksanakan shalat Zuhur sebagai pengganti shalat Jumat sebagai hukum asal („azīmah) bagi orang yang tidak melaksanakan shalat Jumat (lihat TJA Jilid 4 halaman 123), dan baginya tetap mendapatkan pahala Jumat.

عن أَبى ب رُْدَةَ سََِعْتُ أَبَا مُوسَى مِرَارًا ي قَُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّوِ صَلَّى اللَّوُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرِضَ ا لْعَبْدُ أَوْ
سَافَ رَ، كُتِبَ لَوُ مِثْلُ مَا كَانَ ي عَْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا [رواه البخاري]

Dari Abū Burdah (diriwayatkan), aku mendengar Abū Mūsā beberapa kali berkata: Rasulullah saw bersabda: Apabila seorang hamba sakit atau melakukan perjalanan maka dicatat (pahala) baginya seperti apa yang dilakukan orang yang mukim dan sehat [H.R. al-Bukhārī].

Selain itu shalat Jumat memiliki beberapa keutamaan khusus yang tidak ada pada shalat fardu lainnya, seperti keutamaan mandi janabah menjelang shalat Jumat, hadir lebih awal pada shalat Jumat, terdapat kafarat dosa antara Jumat satu dengan Jumat lainnya. Salah satu hadis yang menyebut keutamaan shalat Jumat tersebut adalah,

عَنْ أَبِِ ىُرَيْ رَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّوِ صَلَّى اللهُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنِ اغْتَسَلَ ي وَْمَ الُْْمُعَةِ غُسْلَ الَْْنَابَةِ، ثَُُّ رَاحَ
فِِ السَّاعَةِ الُْْولََ، فَكَأَنَََّّا قَ رَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِِ السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَََّّا قَ رَّبَ ب قََرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِِ
السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَََّّا قَ رَّبَ كَبْشًا أَقْ رَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِِ السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَََّّا قَ رَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِِ
السَّاعَةِ الخَْامِسَةِ فَكَأَنَََّّا قَ رَّبَ ب يَْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الِْْمَامُ حَضَرَتِ الْمَلًَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ [رواهمالك]

Dari Abū Hurairah (diriwayatkan), Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa mandi janabah pada hari Jumat lalu pergi untuk melaksanakan Jumat pada waktu pertama seolah-olah ia berkurban unta, barangsiapa datang pada waktu kedua seperti berkurban sapi, barangsiapa datang pada waktu ketiga seperti kurban seekor kibas yang bertanduk, barangsiapa datang pada waktu keempat seperti berkurban ayam dan barangsiapa datang pada waktu kelima seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam sudah datang maka para malaikat hadir ikut mendengarkan khutbah [H.R. Mālik].

Tata Cara Shalat Jumat
Shalat Jumat ini merupakan ibadah maḥḍah, sedangkan prinsip ibadah maḥḍah adalah terlarang kecuali ada perintah. Oleh karenanya tata cara shalat Jumat harus mengikuti petunjuk dan sesuai dengan tuntunan berdasarkan al-Qur’an dan hadis Nabi saw. Hal ini didasarkan kepada firman Allah swt,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَ ا ن هََاكُمْ عَنْوُ فَانْ تَ هُوا وَاتَّ قُوا اللَّوَ إِنَّ اللَّوَ شَدِيدُ الْعِقَابِ …

…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat keras siksa-Nya [Q.S. al-Ḥasyr (59): 7].

Prinsip umum tata cara shalat Jumat sama dengan shalat fardu lainnya, yakni dilakukan secara berjamaah, menghadap kiblat, pengaturan saf dan aturan lainnya dalam ketentuan shalat berjamaah. Semua ketentuan shalat berjamaah pada shalat lima waktu berlaku pula pada aturan shalat Jumat (lihat Materi Munas Tarjih XXX tahun 2018 di Makassar tentang Tata Cara Shalat Berjamaah hal. 244). Ada beberapa hal penting berkaitan dengan tata cara shalat Jumat yang perlu dijelaskan, di antaranya adalah,

1. Shalat Jumat Dilaksanakan di Masjid

Para ulama banyak merumuskan tentang syarat sahnya shalat Jumat, Wahbah az-Zuhailī merumuskan ada sebelas syarat sahnya Jumat di antaranya shalat Jumat dilaksanakan di masjid dengan berjamaah (lihat al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh II/1291, bāb Syurūṭ ṣiḥḥah al-Jumu„ah: Iḥdā „Asyrata).

Dalam kondisi tertentu dibenarkan pelaksanaan shalat Jumat tidak di masjid, yakni dapat dilaksanakan di tempat selain masjid. Kebolehan ini bisa disebabkan karena tidak ada masjid yang dapat dipergunakan shalat Jumat seperti di ruang sekolah, kantor atau ruang publik lainnya. Sebab lain dibolehkan shalat Jumat di luar masjid karena kapasitas masjid tidak dapat menampung banyak jamaah sehingga harus melebar ke ruangan lain di luar masjid (lihat Tanya Jawab Agama jilid II/92 dan III/92).

Sebagai contoh shalat Jumat yang dilaksanakan di Masjidil Haram pada musim haji, hampir selalu meluber sampai ke luar masjid seperti halaman masjid, di hotel-hotel sekitarnya hingga ke jalan-jalan. Dalam keadaan ini, shalat Jumat tetap sah karena masih adanya ketersambungan antara jamaah yang di luar masjid dengan jamaah yang di dalam masjid dan kesatuan tempat antara imam dengan makmum meski terhalang dinding atau yang lain.

Peristiwa seperti ini pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad saw, beliau menjadi imam shalat di balik tabir sedangkan makmum terpisah dengan tabir dan makmum mengikuti imam dari suara Nabi saw, sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَتْ لَنَا حَصِيَْة ن بَْسُطُهَا بِالنَّ هَارِ، وَنََْتَجِرُىَا بِاللَّيْلِ، فَصَلَّى فِيهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْ لَةٍ فَسَمِعَ الْمُسْلِمُونَ قِرَاءَتَوُ، فَصَلَّوْا بِصَلًَتِوِ… [رواه أحمد]

Dari Āisyah (diriwayatkan) ia berkata: Kami mempunyai sehelai tikar yang kami bentangkan di siang hari dan kami jadikan dinding di malamnya, maka Rasulullah saw shalat pada suatu malam di tempat yang didindingi tikar itu, seketika kaum muslimin mendengar bacaannya dan mereka pun shalat dengan mengikuti shalatnya Nabi (dari balik tabir)… [H.R. Aḥmad].

Hal ini juga terjadi pada masa sahabat yang dilakukan oleh Anas bin Malik, peristiwa ini digambarkan dalam riwayat berikut,

عَنْ صَالِحِ بْنِ إِبْ رَاىِيمَ قَالَ: رَأَيْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ صَلَّى الُْْمُ عَةَ فِِ ب يُُوتِ حمَُيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحمَْنِ بْنِ
عَوْفِ، فَصَلَّى مِِِْ بِصَلًَةِ الِْْمَامِ فِِ الْمَسْجِدِ، وَب يَََْ ب يُُوتِ حمَُيْدٍ وَالْمَسْجِدِ الطَّرِيقُ [رواه الشافعي]

Dari Shālih bin Ibrāhīm (diriwayatkan) ia berkata: Aku melihat Anas bin Mālik shalat Jumat di rumah Humaid bin Abdurraḥmān bin Auf, maka ia shalat bersama mereka mengikuti shalat imam yang berada di masjid, sedangkan di antara rumah-rumah Humaid dan masjid adalah jalan [H.R. asy-Syāfi’ī].

Dari kedua riwayat tersebut dapat dipahami bahwa shalat Jumat dapat dilakukan di luar masjid dengan tetap mengikuti induk shalat dan pada kesatuan tempat. Oleh karena itu shalat Jumat yang dilaksanakan mengikuti induk jamaah, meskipun terhalang dinding, ruang, jalan atau sungai, selama masih terkoneksi atau terhubung dengan jamaah induknya, maka shalat Jumatnya tetap sah. Dalam kondisi tertentu untuk membantu ketertiban shalat Jumat berjamaah dapat pula digunakan alat penghubung antara imam dan makmum berupa media layar yang menampilkan gambar seperti LCD/LED dan media lain dalam bentuk suara seperti loud speaker atau lainnya.

Kesatuan tempat antara imam shalat Jumat beserta makmumnya merupakan bagian dari syarat sah shalat Jumat. Hal ini dilakukan secara hakiki (nyata), bukan dalam bentuk lainnya, yakni seorang imam shalat di bagian depan dan makmum shalat di sudut lainnya di dalam masjid atau seorang shalat di luar masjid dengan tetap mengikuti imam di dalam masjid, maka sah shalat Jumatnya. (lihat al-Hāwī al-Kabīr II/343, al-Fiqh al-Islamī wa Adillatuh II/1299).

2. Penataan Saf Shalat Jumat

Imam shalat Jumat hendaklah memperhatikan makmum sebelum memulai shalat dengan memastikan kesiapan makmum dalam mengikuti shalat berjamaah seperti lurus dan rapatnya saf serta penuhnya saf depan lebih dahulu baru kemudian saf berikutnya. Dalil yang menjelaskan hal ini adalah hadis-hadis berikut.

:عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّوِ صَلَّى اللهُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ ي قُْبِلُ عَلَيْ نَا بِوَجْهِوِ، قَ بْلَ أَنْ يُكَبِّ رَ فَ يَ قُولُ
تَ رَاصُّوا، وَاعْتَدِلُوا [رواه أحمد]

Dari Anas (diriwayatkan) ia berkata: Adalah Rasulullah saw menghadapkan wajahnya kepada kami sebelum bertakbir, lalu beliau berkata: Luruskan dan rapatkan [H.R. Aḥmad].

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَتِ وا الصَّفَّ الَْْوَّلَ وَالَّذِي يَلِيوِ، فَإِنْ كَانَ ن قَْ فَ لْيَكُنْ فِِ الصَّفِّ الْْخِرِ [رواه أحمد]

Dari Anas (diriwayatkan), Rasulullah saw bersabda: Penuhilah saf pertama kemudian saf berikutnya, jika ada kurang maka jadikanlah pada saf akhir [H.R. Aḥmad].

Makmum yang berjumlah lebih dari satu posisinya berada di belakang imam, berdasarkan hadis Nabi saw berikut ini.

عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَامَ النَّبُِِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى الْمَغْرِبَ فَجِئْتُ فَ قُمْتُ عَ نْ يَسَارِهِ
فَ نَ هَانِِ فَجَعَلَنِِ عَنْ يَمِيْنِوِ ثَُُّ جَاءَ صَاحِبٌ لَِ فَصَفَفْنَا خَلْفَوُ [رواه أبو داود]

Dari Jābir bin Abdullāh ia berkata, [diriwayatkan] bahwa Nabi saw berdiri untuk melakukan shalat maghrib, lalu aku datang dan berdiri di sebelah kirinya, maka beliau mencegah aku dan menjadikan aku di sebelah kanannya. Setelah itu datang seorang temanku, lalu kami berdiri (bersaf) di belakang Nabi” [H.R. Abū Dāwūd].

3. Makmum Mengetahui Kondisi Imam Shalat Jumat

Dalam shalat berjamaah seorang makmum dituntut juga mengetahui beberapa hal tentang kondisi imam, seperti batal atau tidaknya imam, mengetahui dan mengikuti gerakan shalat imam juga seorang makmum tidak mendahului imam. Para ulama mengharuskan adanya keselarasan gerak antara imam dan makmum adalah berdasarkan hadis Nabi saw:

عَنْ أَبِِ ىُرَيْ رَةَ، قَالَ: قَالَ النَّبُِِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ: إِنَََّّا جُعِلَ الِْمَامُ لِيُ ؤْتَََّ بِوِ، فَإِذَا كَبَّ رَ فَكَبِّ رُوا، وَإِذَا
رَكَعَ فَارْكَعُوا [رواه البخاري]

Dari Abū Hurairah (diriwayatkan) ia berkata: Nabi saw bersabda: Sesungguhnya dijadikan imam itu untuk diikuti, apabila imam takbir maka makmum ikut bertakbir dan apabila imam rukuk maka makmum pun ikut rukuk [H.R. al-Bukhārī].

Hadis ini dipahami sebagai dalil keharusan mengikuti gerakan shalat imam seperti gerakan rukun shalat maupun intiqāl (perpindahan). Makmum wajib mengikuti gerakan imam dengan cara melihat langsung gerakan imam, melihat gerakan makmum yang ada di belakang imam atau memperhatikan suara imam (lihat TJA Jilid 2 halaman 92). Sebagian ulama juga memahami bahwa hadis ini tidak sekedar keharusan mengikuti imam tetapi juga keharusan adanya kesatuan tempat antara imam dan makmum. Artinya, imam dan makmum harus berada pada satu tempat, posisi makmum tidak boleh berada di depan posisi imam, karena yang demikian menjadikan tidak sah shalatnya, demikian pandangan dari mazhab Syafii (lihat Syarḥ Ibnu Baṭal 3/389).

Kesatuan tempat serta ketersambungan imam dan makmum menjadi penting dalam shalat berjamaah termasuk pada shalat Jumat. Oleh karena itu seorang laki-laki atau perempuan, kuat atau lemah, sendiri maupun banyak tidak diperbolehkan melaksanakan shalat dari rumah sementara imam shalat berada di masjid. Pelaksanaan seperti ini juga tidak boleh dilakukan baik pada shalat fardu, sunah, Jumat maupun shalat lainnya, baik rumahnya berada di depan maupun belakang dari posisi imam shalat, karena pada prinsipnya shalat berjamaah dilakukan pada kesatuan tempat seperti di masjid dan ketersambungan imam dan makmum (lihat Fatawā Lajnah ad-Dāimah lil-Buḥuṡ „Alamiyyah wal-Iftā‟, 10/206).

Problematika Shalat Jumat Online

Dari uraian tentang hukum dan tata cara shalat Jumat di atas, dapat diketahui bahwa shalat Jumat yang dilakukan secara online ternyata mengandung beberapa problematika, di antaranya adalah,

Pertama, shalat Jumat adalah ibadah yang bersifat ta„abbudī dan termasuk dalam kelompok ibadah yang khās (khusus) atau maḥḍah, sehingga perincian-perinciannya telah ditetapkan oleh nas al-Qur’an dan Sunah Rasulullah saw. Oleh sebab itu dalam shalat Jumat tidak diperkenankan adanya kreasi selain apa yang telah dituntunkan. Meng-online-kan shalat Jumat termasuk kreasi yang sejatinya tidak diperkenankan. Ini berbeda dengan akad nikah misalnya, yang merupakan bentuk ibadah muamalat, sehingga memungkinkan adanya kreasi seperti akad nikah dengan bahasa selain bahasa Arab, akad nikah melalui surat atau pun akad nikah secara online.

Kedua, shalat Jumat online tidak sesuai dengan tuntunan shalat Jumat, khususnya tentang kesatuan tempat secara hakiki (nyata), bukan virtual, ketersambungan jamaah, posisi imam dan makmum serta beberapa keutamaan shalat jamaah. Dalam shalat Jumat online, tentu kesatuan tempat secara hakiki (nyata) tidak tercapai, karena jamaah shalat Jumat online bisa berada di mana pun sesuai dengan keberadaan masing-masing jamaah. Ketersambungan jamaah juga tidak bisa dicapai karena jamaah ada di berbilang tempat dan lokasi. Demikian pula posisi imam dan makmum menjadi tidak jelas siapa yang di depan dan siapa yang di belakang serta tidak berlaku lagi ketentuan lurusnya saf shalat.

Ketiga, rukhsah untuk ditinggalkannya shalat Jumat adalah diganti dengan shalat Zuhur. Hal ini, selain memang sudah diterangkan dalam hadis Nabi saw pada penjelasan di atas, mengambil shalat Zuhur sebagai rukhsah juga sebagai jalan memilih hal yang lebih mudah. Nabi saw menuntunkan bahwa ketika memilih di antara dua perkara, maka dipilihlah yang paling mudah dilakukan, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis berikut,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّوُ عَنْ هَا أَن هََّا قَالَتْ مَا خُيِّ رَ رَسُولُ اللَّوِ صَلَّى اللَّوُ عَلَيْوِ وَسَلَّمَ ب يَََْ أَمْرَيْنِ إِلََّّ أَخَذَ
أَيْسَرَهََُا مَا لََْ يَكُنْ إِثًْْا [ر واه البخاري]

Dari „Āisyah r.a. (diriwayatkan) bahwa ia berkata, tidaklah Rasulullah saw memilih di antara dua perkara kecuali beliau mengambil yang paling mudah di antara keduanya, selama tidak ada dosa [H.R. al-Bukhārī].

Shalat Jumat secara online sudah tentu menggunakan serangkaian perangkat untuk bisa dilaksanakan, baik perangkat untuk online berupa paket data internet, perangkat keras berupa laptop misalnya, perangkat lunak yang dalam hal ini menggunakan aplikasi telekonferensi video Zoom Clouds Meeting, maupun kebutuhan listrik untuk menghidupkan perangkat-perangkat tersebut. Oleh sebab itu, shalat Jumat online sangat bergantung pada ketersediaan perangkat-perangkat tersebut. Seandainya perangkat-perangkat yang digunakan mengalami masalah, apakah karena ada gangguan suplai listrik, gangguan sinyal dan lain sebagainya, maka pelaksanaan shalat menjadi terganggu atau bahkan batal dilaksanakan. Hal ini tentu menyulitkan bagi jamaah shalat Jumat online tersebut.

Kemajuan teknologi harus diakui sebagai berkah yang besar. Di bidang medis, kemajuan teknologi mampu menyelamatkan puluhan juta manusia untuk bertahan hidup. Di bidang komunikasi, orang dapat bertemu dan berkomunikasi di ruang virtual (maya). Tetapi teknologi jangan sampai melakukan mekanisasi terhadap kehidupan manusia, sehingga hidup manusia di bawah kendali mesin-mesin yang menyebabkan ruang pribadi dan ruang spiritual manusia menjadi kehilangan makna. Tidak semua kehidupan manusia dapat dimasuki oleh kemajuan teknologi.

Pada bidang ibadah, kemajuan teknologi harus dibatasi, karena ibadah merupakan komunikasi manusia dengan Tuhan secara langsung. Seandainya kemajuan teknologi masuk dalam bidang ibadah, misalnya azan, mengimami shalat atau berkhutbah dilakukan oleh robot, maka proses ibadah menjadi bukan lagi proses manusiawi, tetapi proses mekanisasi. Artinya, satu dimensi kehidupan manusia yang sangat penting sudah tergerus oleh mesin-mesin yang diciptakan manusia sendiri. Jadi, penerimaan kemajuan teknologi dalam bidang ibadah tetap harus dibatasi, termasuk dalam ibadah shalat Jumat ini, shalat dilakukan sebagaimana adanya.

Keempat, sungguh pun shalat Jumat online adalah masalah ijtihādī, namun secara realitas telah menimbulkan kontroversi di masyarakat. Oleh sebab itu, sesuatu hal yang menimbulkan kontroversi sebaiknya ditinggalkan, sebagaimana kaidah fikihiah berikut ini,

.الخُرُوجُ مِنَ الخِْلًَفِ مُسْتَحَبٌّ

Keluar dari khilaf (kontroversi) itu disukai.

Adapun jalan keluar yang paling ideal dari sebuah kontroversi adalah kembali kepada nas, yaitu rukhsah shalat Jumat yang tidak dapat dilaksanakan adalah diganti dengan shalat Zuhur. Hal ini mengacu pada al-Qur’an surah an-Nisā’ (4): 59,

يَا أَي هَُّا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّوَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولَِ الَْْمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَ نَازَعْ تُمْ فِِ شَيْءٍ فَ رُدُّوهُ إِلََ
اللَّوِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ ت ؤُْمِنُونَ بِاللَّوِ وَالْيَ وْمِ الْْخِرِ ذََٰلِكَ خَيْ رٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًً

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah berpandangan bahwa,

1. Shalat Jumat adalah ibadah maḥḍah yang wajib dilaksanakan sesuai ketentuan yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad saw. Segala sesuatu dalam ibadah maḥḍah yang dilakukan di luar tuntunan Nabi Muhammad saw tidak dapat dibenarkan. Shalat Jumat hukumnya wajib dikerjakan, sehingga apabila terjadi suatu kondisi yang mengakibatkan tidak dapat terlaksananya shalat Jumat, maka kewajiban shalat Jumat menjadi gugur dan diganti dengan shalat Zuhur. Dalam keadaan darurat karena pandemi Covid-19 ini, jika hendak mendirikan shalat Jumat, maka dapat dilaksanakan secara terbatas di rumah atau tempat lainnya selain masjid atau dapat melaksanakan shalat Jumat di masjid secara bergantian (gelombang) dengan tetap menjaga protokol kesehatan secara sangat ketat.

2. Praktik shalat Jumat secara online, walaupun itu persoalan ijtihādī, namun ada ketentuan shalat Jumat yang tidak dapat tercapai dalam praktik shalat Jumat secara online, yaitu adanya kesatuan tempat secara hakiki (nyata), ketersambungan jamaah, pengaturan posisi imam dan makmum yang sesuai dengan ketentuan shalat jamaah (makmum berada di belakang imam) serta keutamaan-keutamaan shalat Jumat. Di samping itu, shalat Jumat yang dilakukan secara online justru lebih memberi kesulitan baru karena mengharuskan ketersediaan serangkaian perangkat online daripada menggantinya dengan shalat Zuhur.

3. Sejauh penelusuran terhadap berbagai literatur, Majelis Tarjih dan Tajdid belum menemukan dalil atau alasan yang kuat untuk mengganti shalat Jumat dengan shalat Jumat secara online. Oleh karena itu, dengan tanpa mengurangi rasa hormat terhadap pendapat yang berbeda, Majelis Tarjih dan Tajdid belum dapat menerima pelaksanaan shalat Jumat secara online

Demikian jawaban fatwa dari kami semoga dapat dipahami. Kami juga mengajak kepada warga Persyarikatan untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt agar dijauhkan dari pandemi Covid-19 yang sedang mewabah di seluruh dunia. Warga Persyarikatan hendaknya mengikuti semua fatwa maupun putusan dari Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah pada masa pandemi Covid-19 ini dan mengikuti arahan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button