FATWA TENTANG PERAYAAN SEKATEN

  • Page Views 457
  • PERAYAAN SEKATEN

    Pertanyaan Dari :

    Tukiyat Siswadi. Serbalawan, Medan, Sumatera Utara

    (Fatwa ini dimuat di buku Tanya Jawab Agama Jilid 4 terbitan Suara Muhammadiyah)

     

    Pertanyaan :

    Perayaan Sekaten itu berasal dari agama apa? Apakah orang Islam boleh merayakan sekaten?

     

    Jawaban :

    Peringatan sekaten tidak lepas dari peringatan Maulud Nabi saw. Maulud Nabi sendiri adalah suatu peringatan kelahiran Muhammad saw, dan sudah mentradisi dikalangan umat Islam. Selama hayat Nabi, peringatan maulud ini tidak ada. Bahkan sampai 200 tahun sepeninggal Nabi saw. Peringatan maulud yang pertama diadakan oleh al-Muzaffar Abu Said, seorang raja dari Irbil, pada awal abad ke III hijriyah, atau lebih dari 200 tahun sepeninggal Nabi saw. Peringatan maulud waktu itu dimaksud untuk menggugah, menggairahkan, meningkatkan semangat hidup beragama, keagamaannya, dan perlu mengambil suri tauladan dari kehidupan Nabi saw. Sejak itulah kegiatan memperingati maulud Nabi itu tumbuh dan berkembang, sehingga menjadi tradisi yang merata dikalangan umat Islam dengan variasi yang bermacam-macam sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan, tradisi yang ada, kebudayaan setempat dsb. Bahkan di negara yang banyak umat Islamnya, peringatan maulud itu dilaksanakan secara resmi oleh pemerintah, misalnya di Indonesia diselenggarakan di Istana Negara, dan peringatan hari besar Islam lain dilaksanakan di Masjid Istiqlal.

    Sekaten adalah peringatan Maulud Nabi saw khas Jawa, perayaan ini berawal dari zaman Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam. Karena gamelan merupakan hal yang digemari masyarakat waktu itu, maka para wali menggunakan gamelan sebagai sarana untuk mengumpulkan warga masyarakat. Setelah orang berkumpul di depan masjid, kesempatan ini digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk memberikan penyuluhan dan penerangan tentang agama Islam, oleh Sunan Kalijaga diberikan bimbingan lebih lanjut dan dituntun terlebih dahulu mengucapkan syahadatain. Dari kata Syahadatain inilah – karena perubahan ucapan – kemudian menjadi sekaten. Ada juga yang menyatakan kata sekaten berasal dari “sekati”, yaitu nama dua perangkat gamelan : Guntur Madu dan Nogowilogo. Dengan demikian, jelaslah bahwa sekaten itu adalah kegiatan dakwah Islam (berasal dari agama Islam) dengan menggunakan sarana hiburan yang digemari rakyat pada masa itu. Sebagai orang Jawa asli, sudah tentu akan merasa sangat berkesan dan tersentuh bila mendengar gending-gending sekaten dari gamelan tersebut. Setelah itu dia dapat melanjutkan dengan mendengarkan perjanjian Agama Islam.

    Dalam perkembangannya kegiatan sekaten mengalami perubahan juga. Walau demikian, prinsipnya tetap, yaitu dakwah Islam dan hiburan. Hiburannya berkembang dengan bermacam-macam kesenian dan pasar malam, tidak terkecuali arena dangdut. Sedangkan yang berupa dakwah adalah berupa ceramah agama menjelang Maghrib dan lainnya.

    Sehubungan dengan itu, merayakan sekaten sekarang ini sangat tergantung kepada motivasi atau niat dari yang melakukannya.

    Share This Article

    Leave a comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *