EtalaseUncategorized

Khutbah Idulfitri Rabu 1 Syawal 1437 H / 6 Juli 2016 M

Khutbah Idulfitri Rabu 1 Syawal 1437 H / 6  Juli 2016 M

Oleh : Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, MA

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا فمن يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أرسله بالحق بشيرا ونذيرا وهاديا إلى صراط الله المستقيم.

الله أكبر الله أكبر ، لا إله إلا الله،  الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. وصلى الله على محمد وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا. الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله،  الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون. قال الله تعالى في كتابه الكريم. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون. الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله،  الله أكبر الله أكبر ، ولله الحمد.

Para jamaah Idulfitri yang berbahagia.

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil-hamd.

Rasa syukur yang dalam marilah kita panjatkan ke hadirat Ilahi atas telah selesainya kita menjalankan ibadah puasa selama satu bulan, tepatnya 30 hari. Pada pagi ini kita menunaikan rangkaian ibadah penutup Ramadan, yaitu salat Idulfitri.

Satu bulan lamanya kaum Muslimin menjalani ibadah puasa dengan menahan lapar dan dahaga di siang hari, dan itu bukan karena kekurangan makanan dan minuman melainkan lantaran memenuhi perintah ilahi yang merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Dengan ibadah puasa itulah segenap kaum Muslimin menjalani proses pembinaan dan pendidikan, di mana mereka memperbanyak ibadah dan amal, serta melakukan introspeksi diri, melatih disiplin, meningkatkan daya tahan, memperkuat semangat, memperkokoh iman, dan menempa pengendalian diri dengan menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan kepatutan hidup yang diajarkan dalam agama itu sendiri.

Sebagai salah satu rukun Islam, puasa memiliki kedudukan sangat penting dalam Islam. Puasa bukan suatu hukuman terhadap manusia, melainkan merupakan suatu pembentukan sikap disiplin dan kemampuan mengendalikan diri. Puasa menguatkan kemauan dan membebaskan manusia dari cengkeraman nafsu, mempertinggi kesadaran moral, mempertajam kepekaan nurani dan memurnikan spiritualitas melalui pengaturan dan pengendalian keinginan dan syahwat.

Para jamaah id yang berbahagia

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil-hamd.

Meskipun bulan Ramadan telah berlalu, sehingga kita secara fisik mulai hari ini tidak lagi menjalankan puasa wajib hingga datangnya Ramadan berikutnya, namun secara maknawi kita masih tetap wajib berpuasa, karena hakikat puasa adalah menahan dan mengendalikan diri dari segala hal yang bertentangan dengan kabajikan hidup. Tentu akan sangat sia-sia bahwa perjuangan fisik yang kita lakukan selama satu bulan dengan menahan lapar dan haus di siang hari, lalu tidak membawa efek moral apa-apa dalam keseharian hidup kita setelah itu. Kita hendaknya jangan sampai seperti orang yang digambarkan oleh Rasulullah saw dalam hadisnya yang sudah sering kali disampaikan oleh para da’i selama bulan Ramadan, yaitu sabda beliau,

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ [رواه أحمد والدارمي]

Berapa banyak orang yang berpuasa, yang diperolehnya dari puasa itu hanyalah lapar belaka dan berapa banyak orang yang bangun malam untuk beribadah, namun yang diperolehnya dari bangun malam itu hanyalah keletihan tidak tidur belaka [HR Ahmad dan ad-Darimi].

Hadis ini hendak memperingatkan bahwa bahwa puasa dan ibadah malam yang dilakukan secara fisik selama satu bulan jangan sampai sia-sia dan tidak membuahkan nilai spiritual apa pun. Hal itu terjadi karena nilai-nilai ruhaniah dari ibadah tersebut tidak dihayati dan tidak diperjuangkan untuk diwujudkan. Puasa dijalankan sebagai rutinitas dan adat kebiasaan baku saja, tanpa ruh dan penghayatan. Secara fisik kita memang berpuasa, namun dalam prilaku hidup kita secara riil mungkin kita tidak berpuasa. Mudah-mudahan kita terhindarkan dari orang berpuasa sebagaimana diingatkan oleh baginda Rasulullah itu.

Para jamaah id yang berbahagia

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil-hamd.

Kita bangsa Indonesia termasuk bangsa yang sedang berkembang. Kita masih harus banyak memacu diri untuk mewujudkan bangsa yang berkemajuan. Untuk itu banyak hal harus kita perjuangkan. Dalam kaitan ini puasa Ramadan dapat memberikan beberapa etos penting bagi kita dalam mengejar kemajuan bangsa seperti etos disiplin diri, menghargai waktu, altruisme dan perhatian teradap sesama, penghormatan terhadap nilai dan hukum dan banyak lagi yang lain.

Di antara etos yang sangat perlu dikembangkan adalah etos keilmuan agar bangsa kita menjadi bangsa yang gandrung kepada ilmu pengetahuan. Agama Islam sangat mendorong umatnya untuk menuntut ilmu. Dalam sebuah hadis ditegaskan,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ [رواه ابن ماجه والطبراني]

Dari Anas Ibn Malik [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Menuntut ilmu wajib atas setiap orang Muslim [HR Ibn Majah dan at-Tabarni].

Penguasaan ilmu dan teknologi merupakan tuntutan mendasar bagi kita untuk dapat memainkan peran lebih baik di masa depan. Kita bangsa Indonesia alhamdulillah dianugerahi oleh Allah swt sebuah negeri dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah di darat dan di laut. Kekayaan melimpah itu tentu tidak mungkin dapat kita kelola dan kita eksploitasi sendiri secara baik tanpa adanya penguasaan sains dan teknologi secara memadai. Oleh karena itu melalui spirit puasa Ramadan ini mari kita menjadikan semangat penguasaan ilmu dan teknologi sebagai etos utama bangsa kita agar kita mampu mengelola sendiri sumber daya alam kita tanpa banyak tergantung kepada orang lain dalam rangka membangun dan meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat.

Etos ekonomi juga tidak dapat tidak harus dikembangkan di kalangan kita. Dalam kehidupan ekonomi memang sudah banyak dicapai kemajuan, namun masih banyak rakyat Indonesia hidup dalam kemiskinan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah orang miskin di Indonesia pada bulan September 2015 bertambah menjadi sebesar 28,51 juta orang dengan ukuran kemiskinan pendapatan per bulan sebesar Rp. 344.809,- (tiga ratus dua belas ribu tiga ratus delapan belas rupiah). Jumlah ini bertambah 780 ribu orang dibanding September 2014 yang sebesar 27,73 juta orang. Oleh karena itu pengentasan kemiskinan merupakan tugas dan tantangan kita bersama ke depan. Pemerintah diharapkan dapat terus berupaya memperkokoh ekonomi rakyat.

Dalam ajaran Islam terdapat sejumlah prinsip yang sangat penting bagi pemupukan etos terkait peningkatan kehidupan ekonomi, khususnya lagi etos kerja. Etos kerja merupakan semangat dan karakter jiwa yang mencerminkan sikap dalam bekerja. Di antara butir-butir etos kerja penting yang diajarkan agama adalah: kerja keras, ulet dan tekun, tanggung jawab, akuntabilitas, disiplin, tepat waktu, efisien, berorientasi mutu, terus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, serta mampu membangun kerja sama yang baik. Dengan memandang kerja sebagai ibadah dan amal salih, agama Islam menjadikan keberhasilan kerja di dunia sebagai ukuran keberhasilan manusia di akhirat kelak. Dalam al-Quran ditegaskan,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ [الملك (67): 2]

[Dia lah Tuhan] yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (kerjanya). Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun [QS 67: 2].

Tantangan lain bangsa kita di masa depan adalah dimulainya apa yang disebut era Masyarakat Ekonomi Asean (Asean Economic Community / AEC) pada akhir tahun 2015. Sebagaimana ditegaskan dalam Cetak Biru MEA (AEC Blueprint) seluruh negara Asean harus meliberalisasi perdagangan barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil secara bebas dan arus modal yang lebih bebas. Ini berarti bahwa barang, jasa dan tenaga kerja terampil dari luar, yakni dari negara tetangga kita sesama negara Asean akan masuk ke negeri kita dengan bebas. Itu tentu akan menimbulkan sejumlah dampak dan tantangan, meskipun tentu juga menciptakan peluang. Untuk itu masyarakat kita harus siap baik dari segi sikap mental maupun dari segi peningkatan ketrampilan agar dapat bersaing. Semangat mencintai produk sendiri mutlak harus ditanamkan agar produk kita tidak menjadi asing di pasar dalam negeri sendiri. Begitu ketrampilan rakyat kita harus ditingkatkan termasuk penguasaan bahasa komunikasi internasional, yaitu bahasa Inggris.

Para jamaah id yang berbahagia

Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil-hamd.

Selain dari tantangan tantangan ekonomi, bangsa kita juga menghadapi masalah patologi sosial yang hampir abadi di dalam kehidupan politik dan penegakan hukum di negeri kita, yaitu merajalelanya perilaku korupsi dan penyalahgunaan kekuasan yang sangat mencederai rasa keadilan masyarakat.

Masalah ini merupakan salah satu permasalahan krusial yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini dan berkontribusi besar dalam memporakporandakan tatanan kehidupan sosial dan ekonomi bangsa kita serta meruntuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Mungkin salah satu sumber dari keadaan ini adalah terjadinya kemerosotan moral yang mendalam pada sebagian masyarakat kita, hilangnya kepekaan batin dan sensitivitas nurani, serta lunturnya kesadaran hukum dan rasa hormat terhadap norma. Sebaliknya berkembang sikap individualistik dan semangat materialisme serta gaya hidup hedonistik yang mendorong orang untuk memikirkan dan mementingkan kepentingan materi dirinya sendiri sekalipun dengan melanggar kaidah-kaidah yang mengatur kehidupan dan kepentingan bersama.

Para pengkaji melilihat ada beberapa dampak amat buruk yang ditimbulkan oleh praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang dalam masyarakat. Pertama, hilangnya modal finansial karena korupsi telah menguapkan pendapatan resmi negara dari berbagai sektor. Korupsi menciptakan biaya ekonomi tinggi karena pihak pengusaha terpaksa harus memberi servis kepada pihak berwenang untuk mendapatkan suatu keputusan dan memperlancar usahanya. Fungsi dan struktur pada lembaga pelayanan publik menjadi berbiaya tinggi dan tidak fungsional serta berujung pada mutu pelayanan yang buruk . Kedua, hilangnya modal sosial, yang merupakan jaringan hubungan dan kepercayaan yang penting artinya bagi berjalannya roda pemerintahan  negara dan keadilan bagi masyarakat. Hilangnya kepercayaan terhadap lembaga peradilan negara yang diakibatkan oleh maraknya aroma korupsi, kolusi, dan penyalahgunaan wewenang di sekitar lembaga tersebut juga pada akhirnya dapat merugikan masyarakat sendiri. Lebih jauh praktik demikian akan berakibat rusaknya tatanan hidup masyarakat akibat pemerkosaan terhadap rasa keadilan publik yang diporakporandakan oleh perbuatan kolusi, korupsi dan penyelewengan kewenangan oleh para pemangku jabatan yang telah kehilangan kendali diri dan mabuk dalam kekuasaan.

Banyak penyebab terjadinya korupsi antara lain buruknya tata pemerintahan, lemahnya kontrol atas birokrasi, lemahnya kualitas sumber daya yang menduduki jabatan publik, gaji yang kurang memadai, lemahnya pengawasan, kurangnya transparansi pengambilan keputusan, ketidakjelasan aturan, kurangnya teladan dari atasan, adanya niat untuk korupsi sebagai dampak dari mahalnya biaya keikusertaan pemilu dan lain-lain. Masalah korupsi merupakan masalah multi dimensional dan upaya pemberantasannya oleh karena itu harus bersifat multifacet.

Agama dapat difungsikan sebagai bagian dari keseluruhan upaya pemberantasan korupsi melalui pengelolaan batin dan kalbu guna mempertinggi kepekaan nurani untuk menyadari perlunya kita menjauhi hal-hal yang meskipun untuk sementara dapat memberikan kenikmatan sekejap, namun merusak tatanan masyarakat secara keseluruhan.

Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil-hamd.

Para hadirin jamaah Idulfitri rahimakumullah

Sebagai warga masyarakat dan sebagai umat Islam kita wajib memiliki sensitifitas tinggi terhadap fenomena korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan serta kita wajib ikut berpartisipasi melakukan pemberantasannya sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Dari sudut pandang agama, korupsi, kolusi dan penyalahgunaan wewenang dan pembohongan publik jelas termasuk kategori perbuatan munkar yang wajib dilawan.

Allah berfirman:

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ [لقمان : 17]

… … dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang makruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) [Q. 31: 17].

Ada beberapa jalan atau altematif yang mungkin dilakukan dalam upaya pemberantasan perbuatan korup dan penyalahgunaan wewenang sebagaimana telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Akan tetapi, dari sudut pandang agama, jalan tersebut haruslah berpangkal dari diri masing-masing individu, dari diri kita sendiri, yaitu dengan membangun kekuatan spiritual yang tangguh di dalam diri kita. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan pengelolaan batin dan kalbu. Kalbu merupakan sumber kekuatan dan daya hidup manusia sebagai manusia yang bermartabat. Nabi saw menyatakan bahwa apabila kalbu (hati) manusia dapat dikelola dengan baik, maka seluruh diri manusia itu akan baik. Tetapi sebaliknya kerusakan kalbu akan menjadi sumber kerusakan manusia, seperti ditegaskan dalam hadis riwayat al-Bukhārī dan Muslim berikut:

ألا وَإِنَّ في الْجَسَدِ مُضْغَةً إذا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وإذا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ألا وَهِيَ الْقَلْبُ.

Dari an-Nu‘man lbn Basyir (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabada: … Ketahuilah bahwasanya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang apabila ia baik, maka baiklah seluruh diri manusia itu, dan apabila ia rusak, rnaka rusaklah seluruh diri manusia. Ketahuilah bahwa itu adalah kalbu [HR al-Bukhari dan Muslim].

Pengelolaan hati manusia dilakukan dengan mempertinggi kepekaan batin dan mempertajam sensitivitas nurani untuk menyadari perlunya kita menjauhi hal-hal yang meskipun untuk sementara dapat memberikan kenikmatan sekejap dan keuntungan pribadi, namun dalam jangka panjang merusak tatanan masyarakat secara keseluruhan.

Kiat lain yang penting dalam pengelolaan kalbu adalah menanamkan sikap amanah, yang perdefinisi merupakan suatu komitmen moral untuk melaksanakan kepercayaan yang diberikan kepada kita sebagaimana mestinya. Pada dataran sosial sikap amanah merupakan jaring pengaman yang merekat kehidupan kemasyarakatan dan sekaligus sebagai perwujudan dari jati diri masnusia sebagai makhluk sosial yang memenuhi kebutuhannya melalui hubungan dengan sesama. Hal itu hanya dapat berjalan atas dasar adanya kepercayaan di satu pihak dan komitmen untuk memelihara kepercayaan itu di lain pihak. Dalam ajaran agama, memelihara amanah itu merupakan salah satu dari prinsip-prinsip hubungan sosial antar manusia. Dalam al-Quran ditegaskan bahwa menjaga amanah itu adalah salah satu kriteria orang mukmin yang mendaapat keberuntungan. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ لأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ [المؤمنون: 8]

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya [Q. 23; 8]

Kaum Musilimin dan Muslimat yang berbahagia.

Allahu akbar, Allahu akbar. Allahu akbar walillahilhamd.

Akhirnya marilah kita berdoa kepada Allah swt agar bangsa Indonesia diberika kekuatan untuk menghadapi dan mengatasi segala cobaan yang dihadapinya. Sebagai warga masyarakat marilah kita aterus meningkatkan kesungguhan, usaha dan kesabaran kita dalam membangun bangsa kita untuk mencapai masa depan yang lebih baik.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات ، إنك سميع مجيب الدعوات، اللهم انصر من نصر الدين واخذل من خذل المسلمين .

ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا ربنا ولا تحمل علينا إصرا كما حملته على الذين من قبلنا ربنا ولا تحملنا ما لا طاقة لنا به واعف عنا واغفر لنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين .

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب . ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما . ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار . ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم . وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم . والحمد لله رب العالمين .

والسلام عليكم لارحمة الله وبركاته .


TATA CARA PELAKSANAAN SALAT ID

BERDASARKAN HADIS-HADIS NABI MUHAMMAD SAW

  1. Salat dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) dilaksanakan dua rakaat, berdasarkan hadis,

عَنْ عُمَرَ قَالَ صَلاَةُ السَّفَرِ رَكْعَتَانِ وَصَلاَةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ وَالْفِطْرُ وَاْلأَضْحَى رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  [رواه ابن ماجه]

Dari ‘Umar (diriwayatkan bahwa) ia berkata: salat safar dua rakaat, shalat Jumat dua rakaat, salat Idulfitri dan Iduladha dua rakaat, sempurna bukan qasar, berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw [Hadis riwayat Ibnu Majah].

  1. Salat dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) dilaksanakan tanpa azan dan qamat (iqāmah), berdasarkan hadis,

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ [رواه مسلم]

Dari Jabir Ibnu Samurah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya salat dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) bersama Rasulullah saw tidak hanya sekali atau dua kali, [salat itu dilakukan] tanpa azan dan tanpa qamat [HR Muslim].

  1. Shalat dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) dilaksanakan sebelum khutbah, berdasarkan hadis,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ كَانُوا يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ [رواه مسلم]

Dari Ibnu ‘Umar (diriwayatkan) bahwa Nabi saw, Abu Bakar, dan ‘Umar melaksanakan salat dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) sebelum khutbah [Hadis riwayat Muslim].

  1. Takbir salat dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) tujuh kali pada rakaat pertama (tidak termasuk takbiratul-ihram) dan lima kali pada rakaat kedua (tidak termasuk takbir beridiri dari sujud), berdasarkan hadis-hadis,

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي صَلاَةِ الْعِيدَيْنِ سَبْعًا وَخَمْسًا  [رواه ابن ماجه]

Dari ‘Amr Ibn Syu‘aib, dari ayahnya (Syu‘aib), dari kakeknya (‘Auf) diriwayatkan bahwa Nabi saw bertakbir pada salat dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) tujuh dan lima kali [Hadis riwayat Ibnu Majah].

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْعِيدَيْنِ سَبْعًا وَخَمْسًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ   [رواه أحمد]

Dari ‘Aisyah (diriwayatkan) bahwa Rasulullah saw bertakbir pada salat dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) tujuh dan lima kali sebelum membaca (al-Fatihah dan surat) [Hadis riwayat Ahmad].

عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيدَيْنِ فِي الأُولَى سَبْعًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ وَفِي الآخِرَةِ خَمْسًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عُمَرَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ جَدِّ كَثِيرٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ وَهُوَ أَحْسَنُ شَيْءٍ رُوِيَ فِي هَذَا الْبَابِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْمُهُ عَمْرُو بْنُ عَوْفٍ الْمُزَنِيُّ [رواه الترمذي]

Dari Kaṡīr Ibnu ‘Abdillah, dari ayahnya (‘Abdullah), dari kakeknya (‘Amr Ibnu ‘Auf al-Muzanī) diriwayatkan bahwa Nabi saw ketika shalat dua hari raya (‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha) bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama sebelum membaca (al-Fatihah dan surat) dan lima kali pada rakaat kedua sebelum membaca (al-Fatihah dan surat). Mengenai masalah ini terdapat hadis-hadis dari ‘Ā’isyah, Ibnu ‘Umar, dan ‘Abdullah Ibnu ‘Amr. Abū ‘Īsā (at-Tirmiżī, rawi hadis ini) berkata: Hadis kakek Kaṡīr adalah hadis hasan, dan merupakan hadis terbaik yang diriwayatkan dari Nabi saw mengenai masalah ini. Nama kakek Kaṡīr adalah ‘Amr Ibnu ‘Auf. [Hadiws riwayat at-Tirmiżī].

عَنْ عَمْروِ بْنِ شُعَيْب عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم كَبَّرَ في اْلعِيْدَيْنِ يَوْمَ اْلفِطْرِ وَيِوْمَ اْلأضْحَى سَبْعًا وَخَمْسًا في اْلأُوْلَى سَبْعًا وَفي اْلآخِرَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيْرَةِ الصَّلاَةِ [رواه البيهقي والدارقطني]

Dari ‘amr Ibn Syu‘aib dari ayahnya (Syu‘aib), dari kakeknya (‘Auf) diriwayatkan bahwa Rsulullah saw bertakbir dalam salat id pada hari raya Idulfitri dan Iduladha tujuh dan lima kali: pada rakaat pertama tujuh kali, dan pada rakaat kedua lima kali selain takbir salat [HR ad-Dāraquṭnī dan al-Baihaqī].

قال الشَّافِعِيُّ: وإذا ابْتَدَأَ اْلإِمَامُ صَلاَةَ الْعِيدَيْنِ كَبَّرَ لِلدُّخُولِ في الصَّلاَةِ ثُمَّ افْتَتَحَ كما يَفْتَتِحُ في الْمَكْتُوبَةِ … … … ثُمَّ كَبَّرَ سَبْعًا ليس فيها تَكْبِيرَةُ اْلاِفْتِتَاحِ ثُمَّ قَرَأَ وَرَكَعَ وَسَجَدَ فإذا قام في الثَّانِيَةِ قام بِتَكْبِيرَةِ الْقِيَامِ ثُمَّ كَبَّرَ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْقِيَامِ ثُمَّ قَرَأَ وَرَكَعَ وَسَجَدَ.

Imam asy-Syāfi‘ī menegaskan: Bila imam mulai salat id, ia melakukan takbiratul-ihram untuk masuk ke dalam salat, kemudian membaca doa iftitah seperti dalam salat fardu … … …, kemudian melakukan takbir tujuh kali dengan tidak menghitung takbirratul-ihram, kemudian membaca al-Fatihah dan surat, rukuk dan sujud. Apabila ia hendak berdiri untuk rakaat kedua, maka ia melakukan takbir untuk berdiri, kemudian melakukakan takbir lima kali dengan tidak menghitung takbir berdiri tersebut, kemudian membaca, rukuk dan sujud [Asy-Syāfi‘ī, al-Umm, II: 507].

وَهذا قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ اْلعِلْمِ مِنَ الصَّحَابَةِ فَمَنْ بَعْدَهُمْ أَنَّهُ يُكَبِّرُ في صَلاَةِ اْلعِيْدِ في اْلأُوْلَى سَبْعًا سِوَى تَكْبِيْرَةِ اْلافْتِتِاَحِ ، وَفي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيْرَةِ اْلقِيَامِ قَبْلَ اْلِقرَاءَةِ.

Inilah pandangan kebanyakan ulama dari kalangan Sahabat dan generasi sesudah mereka, yaitu bertakbir dalam salat id pada rakaat pertama tujuh kali selain takbiratul-ihram, dan pada rakaat kedua lima kali selain takbir berdiri dari sujud sebelum membaca al-Fatihah dan surat [Imam al-Bagawī, Syarḥ as-Sunnah, IV: 308].

Khutbah ini disampaikan pada Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1437 H / 6  Juli 2016 M di Lapangan Masjid at-Taqwa, Kadirojo, Purwomartani, Kalasan, Sleman.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button