Etalase

Tiga Pelajaran Penting dari Perjuangan Nabi Ibrahim dan Keluarganya oleh Jannatul Husna, Ph.D.

Khutbah Shalat Iduladha 10 Zulhijah 1443 H/09 Juli 2022 M

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على أمور الدنيا والدين، أشهد أن لا إله إلا الله الملك الحق الميبن، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث رحمة للعالمين، اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين
أما بعد، فيا عباد الله المحترمين أوصي نفسي وإياكم أجمعين
بتقوى الله وطاعته وكونوا مع الصادقين
وقال الله في كتابه المبين: وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إلَيْهِ سَبِيْلًا
وقال أيضا في أية أخرى: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ؛ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ؛ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Alhamdulillah, pada pagi yang cerah ini kita berkumpul dalam rangka merayakan Idul Adha, mungkin untuk kesekian kali dalam hidup kita. Terlalu banyak nikmat Allah yang kita terima, sudah sepantasnya kita bersyukur, agar nikmat yang telah, sedang, dan bakal diperoleh menjadi berkah lagi bermanfaat.

Hari Raya Idul Adha mengingatkan kita perihal kewajiban haji, rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan bagi setiap muslim yang mempunyai kesanggupan untuk menunaikannya. Sementara yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, padahal dia mampu secara finansial, dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban pada hari nahar dan tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

KAUM MUSLIMIN YANG BERBAHAGIA….!

Ibadah haji dan kurban sarat dan erat kaitannya dengan syariat Nabi Ibrahim as. Sang Khalilullah yang dikenal sebagai Bapak Monoteisme dalam sejarah, pejuang tauhid yang otentik, dari yang awalnya menduga bintang sebagai “tuhan”, lalu bulan, kemudian matahari, hingga akhirnya beliau berucap dengan penuh yakin:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (الأنعام: 79)

الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

Dalam kesempatan terbatas ini, khatib mengajak jemaah utk mengambil se-krg2-nya tiga pelajaran penting dari perjuangan Nabi Ibrahim dan keluarganya:

PERTAMA: KECINTAAN KEPADA ALLAH MELEBIHI SEGALANYA

Betapa besar cinta Nabi Ibrahim kepada puteranya, Ismail. Setelah berpuluh tahun menunggu & berharap sambil berdoa (رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ), akhirnya Allah mengaruniai beliau seorang anak, setelah batang usianya menginjak masa tua. Justeru, anak tercinta yang baru saja didambakan kehadirannya harus “dikorbankan”.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى … (الصافات: 102)

Dapat dibayangkan betapa besarnya konflik batin, kegalauan yang dialami oleh Nabi Ibrahim dan keluarga. Tetapi mereka menyadari dengan sepenuh jiwa bahwa cinta kepada Allah harus mengatasi segalanya. Inilah tipikal cinta paripurna:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ (البقرة: 165)

Apa yang dijalani oleh Nabi Ibrahim dan Ismail menunjukkan kesadaran maksimal, bahwa cinta kepada Allah lebih utama dari cinta kepada apapun dan siapapun, termasuk jiwa-raganya sendiri. Ini semua dapat terjadi apabila fondasi akidah umat dan pemimpin Islamnya kokoh tidak tergoyahkan.

HADIRIN-HADIRAT SEKALIAN…….

Ketika mendengar titah Allah melalui mimpi sang ayah, Ismail berucap:

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Inilah pelajaran pertama yang harus kita ulang-ulang untuk diresapi dan tauladani, walaupun kita tidak bisa sesempurna yang dilakukan oleh keluarga ini, lebih-lebih pada zaman modern seperti sekarang, di mana batas halal-haram, baik-buruk, hak dan bathil mulai kabur bahkan hilang sama sekali, seperti disinyalir Nabi Saw:

لاَ يُبَالِي المَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الحَلاَلِ أَمْ مِنَ الحَرَامِ (رواه البخاري عن أبي هريرة)

Sebagai generasi akhir zaman, hari ini dan tahun-tahun mendatang mungkin kita akan sering melihat gejala menghalalkan segala cara untuk mengejar kesenangan duniawi (pangkat-kedudukan, harta-kekayaan, dan lain sebagainya). Kalaulah rida Allah yang diharap, tidak mungkin budaya korup semakin menggila di negeri kita. Belakangan, bukan hanya kas negara yang jebol ulah segelintir pejabatnya, dana umat pun diembat tanpa rasa malu. Na’uzu bi Allah!

الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد


KEDUA: PENTINGNYA KEIKHLASAN DALAM HIDUP

Dalam rentetan ayat tentang pergulatan batin Ibrahim dan Ismail tadi, Allah akhiri firman-Nya itu dengan kalimat:

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ؛ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (الصافات: 106-107)

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Lalu kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.

Kurban dan pengorbanan yang dikehendaki harus berlandaskan niat ikhlas kepada Allah. Inilah yang menyebabkan kurban salah satu putra Nabi Adam diterima dan satunya lagi ditolak oleh Allah (QS. al-Maidah: 27). Oleh sebab itu, bagi kita yang berkurban patut merenungkan firman Allah ini:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ (الحج: 37)

Al-Wahidi, al-Zamakhsyari, al-Nasafi, al-Mahalli dan al-Suyuti dalam tafsir masing-masing menjelaskan maksud “tidak sampai kepada Allah, kecuali” itu dengan: amal baik (kurban) itu bernilai di sisi Allah jika diniatkan ikhlas karena mengharap rida-Nya, menjauhkan dari prestise (riya-sum’ah) agar dianggap dermawan, dst.

JEMAAH SALAT ‘ID RAHIMAKUMULLAH

Perkara niat ini memang abstrak, hanya Allah dan yang bersangkutan sajalah yang tahu apa motivasinya berbuat. Namun, indikasi ikhlas itu dibeberkan oleh Zun Nun al-Mishri, sebagaimana dikutip oleh al-Qusyairi dan al-Nawawi, yaitu: (1) sama saja baginya pujian dan celaan [dipuji tidak terbang dicaci tidak tumbang], (2) lupa melihat amalan ketika beramal, (3) hanya berharap ganjaran di sisi Allah. Jika direnungkan, memang berat berlaku ikhlas itu apalagi dengan kondisi kita hari ini. Jika tidak hati-hati, media sosial dapat melenyapkan setiap perkara baik yang kita lakukan. Sebelum share, ada baiknya kita berfikir untuk apa kita menulis di dinding facebook, twitter, instagram, dll, apakah untuk memotivasi orang lain berbuat sama (dakwah) atau justru untuk menunjukkan eksistensi dan berbangga saja?

Inilah yang diingatkan oleh Abdullah bin al-Mubarak,

رُبَّ عملٍ صغيرٍ تعظِّمهُ النيَّةُ، وربَّ عمل كبيرٍ تُصَغِّره النيَّةُ (جامع العلوم والحكم لابن رجب الحنبلي)

Kurban dan haji adalah dua ibadah mulia dengan biaya besar. Jangan sampai sia-sia akibat salah memasang niat, misalnya berhaji semata-mata ingin nama, jalan-jalan, dll. Sebaliknya, jangan remehkan amal sederhana walau hanya menampakan wajah ceria (بوجه طلق) atau kata yang menyejukkan (فبكلمة طيبة). Karena itu, siapapun yang belum bisa melapangkan sesama, ucapan, laku & putusannya jangan menyakitkan!

الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد


KETIGA: KEBERHASILAN PENDIDIKAN DALAM KELUARGA

Pelajaran ketiga dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim as adalah keberhasilan beliau mendidik putra dan keluarganya, khususnya sang anak Ismail yang erat kaitannya dengan prosesi manasik haji dan ibadah qurban yang sedang kita hadapi ini.

Ismail bukan saja berbakti kepada orang tua, bahkan dia mempunyai kualitas iman yang kokoh. Manifestasi iman kokoh inilah yang melahirkan ibadah, kepatuhan dan akhlak yang baik. Betapa hebat jiwa yang dimiliki oleh sang anak atas didikan orang tua yang bijaksana. Hanya orang tua hebat yang dapat melahirkan anak dengan kualitias jiwa yang hebat pula. Ucapannya lembut, penuh takzim, sikapnya sabar, tawakal serta dapat menghibur ayahnya di tengah kebimbangan luar biasa.

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Kalau ditanya orang tua atau anak kita hari ini, sebagian pasti berkata: tentulah, mereka keluarga Nabi, tantangan mendidik anak belum sehebat sekarang, internet belum ada, dan banyak lagi dalih kita untuk membela diri dan generasi zaman ini?

Semua dalih tidak semua keliru, dan tidak betul sepenuhnya. Tapi perlu kita sadari, Nabi Ibrahim dan keluarga bukan tanpa masalah. Dapatkah kita membayangkan, di saat dua perintah Allah itu datang sekaligus. Antara meninggalkan isteri dan anaknya yang masih kanak-kanak di gurun tandus tiada kehidupan dan manusia di sana demi meneruskan perjuangan lain yang telah ditetapkan Allah di tempat lain. Tanpa akses informasi, tidak juga transportasi yang menghubungkan dua negeri.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ (إبراهيم: 37)

Menapak tilas jalan yang sudah ditempuh oleh Nabi Ibrahim dalam konteks mendidik keluarga adalah mungkin (walaupun tidak sesempurna mereka) asalkan punya niat, keinginan, dan terus belajar dengan baik.

Luruskan lagi orientasi kita dalam mendidik, di mana anak kita disekolahkan atau berkuliah. Bukan sekedar negeri/swasta, murah/mahal uang sekolah/kuliah, pilihan jurusannya gampang dapat kerja atau tidak, melainkan yang ditimbang itu:

  • Kepada siapa dia berguru, sumber daya pendidiknya seperti apa, adakah mengajarkan keteladanan, bukan sekedar transfer of konowledge?

محمد بن سيرين: إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ (رواه مسلم)

  • Pertimbangan dunia kerja perlu, namun jangan menganggap jurusan yang tidak marketable bakal sulit hidup dan masa depan. Belum tentu! Allah-lah yang Maha tahu masa depan seseorang (وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا). Betapa banyak yang jurusan A namun bekerja di bagian B, begitulah seterusnya.

الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

PADA AKHIRNYA,
Marilah kita bertafakur sejenak sambil memohon kepada Allah agar kita dibimbing menjadi hamba yang bertauhid, sehingga kecintaan kita kepada Allah, Rasul dan agama ini makin kuat; menjadi pribadi yang ikhlas dalam melaksanakan kegiatan apapun, karna amal yang ikhlas itulah yang akan menjadi bekal hidup kita setelah harta, anak-keluarga, pangkat-kedudukan tidak lagi berguna; dan semoga anak keturunan kita menjadi pribadi yang akan membela agamanya.

Kepada saudara kita yang sedang beribadah haji, agar beroleh haji yang mabrur. Demikian pula amalan kurban kita diterima Allah.

اللهم صل على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين؛
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا ….
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار، وأدخلنا الجنة مع الأبرار يا عزيز يا غفار
– سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button